Sabtu, 19 September 2009

Segelas Teh Pahit




Pernahkah anda menjumpai minuman yang tak sesuai dengan keinginan anda? Semisal ketika anda mengharapkan teh yang manis, ternyata anda mendapatkan teh tawar dan pahit. Tentu saja hal ini menjadikan kita tidak nyaman. Sering kita kemudian menyalahkan teh tawar sebagai penyebab ketidaknyamanan tersebut, benarkah demikian?

Ketidaknyamanan itu tidaklah disebabkan oleh teh pahit tersebut, tetapi karena ketidak cocokan antara keinginan kita dengan apa yang kita dapatkan. Ketika kita mengharapkan teh manis, kita justru mendapatkan teh tawar. Kalau teh tawar yang menyebabkan kita tidak nyaman, terus kenapa orang lain yang mendapatkan teh tawar ada yang senang? Iya karena orang tersebut menginginkan teh tawar dan mendapatkan teh tawar. Ketidakcocokan antara keinginan dan apa yang kita dapatkan itulah yang menyebabkan kita tidak nyaman dan tidak happy.

Bagaimana jika kita mendapatkan kasus tersebut? Ada dua jalan yang bisa kita ambil. Pertama ubah teh tersebut menjadi seperti keinginan kita, dengan menambah gula atau menggantinya dengan minuman teh yang manis. Dengan demikian kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan, dan menjadi senang. Bagaimana jika kita tidak bisa mengubah teh tersebut seperti yang kita inginkan? Masih ada jalan yang kedua, yaitu kita harus mengubah keinginan kita, mengubah arogansi pikiran kita yang mengharuskan mendapat keinginan kita, dengan cara menerima, menyadari, nyatanya yang ada adalah teh pahit. Sepanjang kita terus-menerus mengingat keinginan kita tentang teh manis, dan faktanya kita mendapat teh pahit maka kita akan tidak nyaman, tidak senang. Karena penyebab ketidaknyamanan tersebut adalah keinginan kita, maka jalan yang diambil adalah mengendalikan keinginan kita, mengubah keinginan kita, menerima realitas yang kita dapatkan.

Bukan sekedar teh, dalam hidup ini kita akan sering mendapatkan bahwa antara keinginan dan kenyataan yang kita dapatkan tidaklah sama. Ketika itu terjadi kita menjadi tidak nyaman, tidak senang. Semakin kita ingin, semakin menyakitkan, semakin tidak menyenangkan dan menderita. Demikian juga, ada dua tawaran jalan yang bsia diambil. Pertama ubahlah agar sesuai keinginan kita. Dalam konteks duniawi kita berhak untuk bersuaha mengubah agar sesuai keinginan kita. Namun hal ini tidaklah mudah. Meski sudah banyak berusaha, kita masih juga mendapatkan hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Jika itu yang terjadi maka kita harus memotong akar ketidaknyamanan itu, yaitu keinginan kita. kitalah yang harus berubah dengan lebih menerima realitas.

Selamat menikmati teh pahit anda!!


Minggu, 26 Juli 2009

Berawal dari sebuah buku kucel [Ulang tahun ke-11 Detikcom]

Internet? Hehehe… Bagiku internet adalah sebuah hal yang menjadikan Aku melihat dunia baru, yang memberikan Aku pada pembelajaran baru. Menurut teman Aku yang sok sosiologis, saya mengalami transformasi budaya melalui internet.

Istilah internet mulai terdengar ketika Aku sekolah di SMA, di Kota Kabupaten Temanggung. Meski demikian, istilah tersebut ya sekedar istilah, apa, seperti apa, untuk apa itu internet, belumlah jelas. Jujur, Aku sempat berpikir, kalau internet itu mungkin bisa saja menemukan kambing yang hilang,.

Akhirnya perjumpaan dengan internet secara sungguhan, terjadi ketika Aku kuliah di Jogja. Awalnya juga tidak begitu interest dengan internet. Bahkan ketika teman-temanku sibuk mencari referensi melalui internet, Aku masih bingung, masih lebih enjoy berkutat dengan buku-buku yang tebal di perpustakaan.

Ketika Aku kesulitan mendapatkan referensi, kemudian temanku menyarankan untuk gugling, Aku hanya mengiyakan, sambil membayangkan apa itu gugling. Aku lebih suka nitip ke teman kost untuk mencarikan sesuatu, tanpa Aku merasa penting untuk belajar internet.

Meski demikian karena obrolan tentang gugling, email, donwload dll sering dilakukan baik di kost, di kampus, di angkringan, bahkan dimana saja, dorongan untuk mencoba internet makin besar. Namun, karena Aku merasa belum merupakan kebutuhan, maka baru berhenti pada satu keinginan saja.

Tak lama setelah itu semua, saya akhirnya harus ketemu dengan internet. Salah seorang dosen memberikan tugas, dan tugas makalah tersebut harus dikumpulkan melalui email, diuhhhhh.

Nah, dengan bekal sering nguping obrolan teman kost atau kampus atau teman angkringan dekat kost tentang internet, Aku mencoba memberanikan diri untuk masuk ke warnet. Masuk, disambut dengan senyum manis mbak operator warnet, membuat sedikit agak nyaman.

Masuklah ke box internet. Kemudian menatap monitor dengan tajam, sambil deg-degan, sekitar 10 menit gak ada reaksi, padahal biling tetap jalan. Kalau aku sih lebih suka pake mozila untuk browsernya. Aku inget kata itu dari seorang temanku. Ingat hal tersebut mendorong saya untuk mengklik mozila yang ada di dekstop. Kemudian setelah terbuka aku ketik “email” dan tentu saja tidak menghasilkan apa-apa. Masih belum kapok, akhirnya aku tulis “gugling” hasilnya juga nihil. Setelah bingung dan keringetan berkepanjanagn meski dalam ruang ber-AC, akhirnya aku putuskan keluar, dan dengan sisa PDnya, aku bilang “alamatnya lupa”, kepada mbak OP warnet tersebut.

Di kost aku berniat menemui salah satu kakak kost yang emang hoby banget ke warnet, untuk membantu masalahku tersebut. Sayang sekali Beliau sibuk, sementara teman kost yang lain malah menertawakan ketika aku cerita masalahku.

Dalam sedikit keputuasaan dan kebingungan itu, aku masuk ke kamar salah kakak kost yang tadi menertawakan aku paling kencang. Untuk berniat tidur, karena kamarku malah dipake buat main poker oleh teman-teman kost. Sambil berbaring tersebut aku merunut tumpukan buku di rak bukunya, sampai mataku tertuju pada buku yang agak kumal. Buku tersebut aku ambil, dan bertuliskan, petunjuk membuat dan menggunakan email secara praktis dan cepat. Aku buka, dan aku menemukan kalau petunjukknya lumayan jelas, lengkap dengan gambar tampilan setiap langkah dalam membuat email dan menggunakannya.

Buku aku ambil dengan tenpa ijin tentu saja, terus segera menuju warnet lagi. Kali ini dengan lebih percaya diri. Dalam box, semua berjalan lancar, petunjuk dari buku kumal itu sangat mujarab. Tes kirim email juga berjalan dengan baik, ditambah dengan sedikit penjelasan dalam buku tersebut tentang gugling, saat itu itu juga aku bisa meninggalkan gugling menjadi google. Tiga jam aku habiskan saat itu juga di warnet hanya untuk utak utik karena mulai menemukan keasyikan bergogle.

Dari buku kumal tersebut akhirnya Aku, memasuki beneran internet. Mulai kemudian mengenal berbagai hal yang ditawarkan oleh internet. Tentu dengan belajar sendiri, sering mencoba, dan berani salah. Proses belajarku tentang internet hampir seluruhnya karena mencoba sendiri.

Hasilnya, aku memasuki satu hal baru yang sangat berpengaruh pada hidupku, saya belajar banyak. Melalui diskusi-diskusi, jejaring sosial, semua mengajarkanku untuk melihat cara pandang yang berbeda terhadap satu hal. Aku mulai bisa melihat kebiasaan, nilai-nilai, cara pandang, yang berbeda dan itu banyak menambah wawasan, serta makin mendewasakan aku.

Transformasi budaya yang diceritakan temanku melalui internet beneran terjadi. Karena kini aku masuk dalam satu dunia baru yang tadinya tidak aku kenal, dengan nilai, aturan etika, yang berbeda dari yang selama ini aku kenal. Dengan menjadi pengguna internet, maka aku sekarang telah masuk dalam dunia dengan tatanan baru, dunia maya.

Jika hendak berterimakasih atas segalanya, maka tentu saja aku berterimakasih pada semua kondisi tersebut. Semua obrolan tentang internet, dosenku yang mengharuskan saya beruinternet, tertawaan teman-teman kost, dan tentu saja buku kumal tentang petunjuk membuat dan menggunakan email. Buat pemilik buku kumal tersebut, setelah selesai tulisan ini, aku cc-kan ke emailnya saja, sebagai ucapan terimakasihku.

Meski demikian masih ada ganjalan tentang dunia internet terhadap pribadiku. Sebagai orang udik, yang ndeso, yang jauh dari peradaban internet, aku sering tertegun ketika pulang kampung dan bertemu dengan teman, tetangga dan warga kampungku. Aku dan mereka kadang serasa terpisahkan dalam dunia yang sangat jauh ketika berdiskusi atau ngobrol dalam satu hal. Pernah dalam satu kejadian, ada lawakan tentang Facebook di TV, aku tertawa ngakak, namun beberapa teman yang nonton bareng tidak menunjukkan ekpresi apapun. Aku akhirnya tersadar, ada yang berbeda, ada yang terpisah antara aku dan mereka dengan internet.
Berharap sekali, aku bisa berbagi tentang internet kepada mereka. Aku telah mendapatkan banyak manfaat dari berinternet, dan mereka warga kampungku juga berhak mendapatkan manfaat yang sama dari internet. Ada yang bisa membantu harapanku?

Jumat, 10 Juli 2009

Jangan Menunda Kebaikan


Seorang sahabat pernah merasa menyesal dengan apa yang dia lakukan. “Kami sekeluarga berencana menjenguk sore itu di rumah sakit, namun entah mengapa kami kepikiran untuk menunda besuk sorenya saja, sekalian ke toko buku, belum kesampaian kami menjenguk, dia telah meninggal” demikian cerita penyesalnnya

Sahabat tersebut menunda untuk menjenguk seorang familinya yang sedang sakit, namun ketika pikiran itu muncul, dia memilih untuk menundanya, dan akhirnya tidak mendapat kesempatan untuk menjenguknya karena keburu meninggal.


Dengan kejadian yang persis sama, baru-baru ini saya mengalami sendiri, menunda untuk menjenguk seorang temang yang sakit, dan akhirnya tidak berkesempatan menjenguk karena dia keburu meninggal. Aneh memang, bahwa kadang kita menunda untuk melakukan satu kebajikan meski itu sudah kepikir dengan jelas.


Sewaktu saya KKN (Kuliah Kerja Nyata), saya pernah bertanya kepada warga kampung tempat saya KKN, apa tidak kepikiran untuk kerja bakti menguruk jalan-jalan yang berlubang? Toh jika semua hadir nggak sampai siang hari juga sudah kelar. Melalui kepala kampung yang diamini oleh ampir semua warga, dijawab “ Kami sudah lama kepikiran tapi entah kapan bisa terlaksana” hehehe


Kadang kita bermain-main dengan waktu dalam melaksanakan kebajikan. Sering sekali kita sudah memikirkan hendak melakukan sesuatu kebaikan, tapi kita menunda dengan alasan-alasan lebih baik besuk, mungkin kesempatan lain, atau masih ada hari esuk.


Bermain-main dengan waktu dalam melaksanakan kebajikan sungguh berbahaya. Mengapa? Karena sebetulnya kita tidak pernah tahu kapan waktu terbaik kita berbuat baik. Kita tidak pernah tahu apakah akan ada kesempatan lagi setelah detik ini untuk berbuat baik, karena hidup kita sampai kapan atau kondisi dunia seperti apa setelah detik ini, kita tak pernah tahu.


Pada kasus apa yang yang sahabat saya dan saya alami, mungkin itu adalah pembelajaran bagi kami untuk tidak menunda kebajikan yang bisa dilakukan saat ini, dan untuk tidak mengulanginya lagi dikemudian hari. Namun bagaimana jika justru kamilah yang mengalami maut? Tentu kami tak ada lagi kesempatan berbuat baik.


Waktu dan kesempatan itu tidak pernah terulang, itulah sebabnya berbahaya jika kita terus menerus berpikir untuk menunda kebaikan dengan berpikir masih ada kesempatan lain. Mungkin kita bisa berpikir untuk menunda satu bentuk kegiatan kebaikan, wujud kegiatan, tapi jangan sampai kita menunda kebaikan itu sendiri.


Sedangkan setiap kesempatan kita, setiap saat, setiap detik kita terus menerus bisa melakukan kabaikan. Selalu ada kesempatan untuk melakukan kebaikan. Bersikap ramah dan simpatik terhadap semua orang tentu bisa dilakukan kapan saja. Berpikir dan berharap terhadap kebaikan, kesuksesan dan kebahagiaan semua makhluk bisa dilakukan kapanpun. Tidak membenci siapapun bisa dilakukan kapan saja.


Menghormati orang tua, berderma kepada orang membutuhkan, tak harus menunggu waktu-waktu khusus, karena kita berpacu dengan waktu. Ada banyak sekali bentuk kebaikan yang bisa dilakukan setiap saat, tinggal disesuaikan dengan kondisi kita saat itu. Namun sebetulnya tak ada alasan untuk mengatakan kalau kita belum ada kesempatan untuk berbuat baik.


Seorang Guru pernah bertanya kepada muridnya, “Apakah Kamu sering merenungkan kematian?”

Murid tersebut menjawab, “Tujuh kali dalam sehari, bagaimana dengan Guru?”

“Setiap saat Saya merenungkan kematian, sehingga saya tahu bahwa kematian bisa datang setiap saat, sehingga setiap saat kita harus berbuat baik.” Jawab Sang Guru


Jangan tunda kebaikan kita, kebaikan apapun yang bisa kita lakukan saat ini, detik ini, ..