Kamis, 28 Agustus 2008

Reuni Dadakan

Reuni Dadakan. Itulah yang terjadi dalam sebuah kesempatan pulang ke desaku. Sore itu aku mengantar seorang tetangga untuk kondangan ke dusun yang masih satu desa dengan desaku. Hanya Lokasinya sekitar 1 KM ke utara, ke arah hutan. Niat awal sih, sekalian jalan2 liat suasana dusun, sudah bertahun2 gak lewat dusun2 itu. kalaupun pulang desa, hanya sempat main ke teman2 yang satu dusun saja.

Karena nganter Kondangan, tentu saja aku tidak ikut masuk, malu.. maka aku memilih markir motor agak jauh dari lokasi, sambil liat2 keadaan dusun. Ketika asyik melihat banyak perubahan di dusun itu, nampak di sebuah rumah, seorang ibu menggendong anaknya, nampak senyum2 melihatku. Tadinya sih aku cuek, tapi tuh orang kok nggak pergi juga. Dengan penasaran aku memandang dia lebih jelas, sampai akhirnya, astaga.. dia temanku waktu SD.

Akhirnya aku hampirin dia, dan dengan senyum lebih lebar dia menyambutku, bukan hanya dia, Laki2 muda, (dugaanku suaminya dan ternyata benar) juga ikut menyambutnya.

"Piye Ning? apa kabar" sapaku duluan

"Apik, Piye Mas Wiwid?" sing Ning menjawab, namanya Ning

" ini anakmu? udah gede ya? ini pasti Bapaknya si Anak.." kataku menyalami mereka

Setelah duduk di teras, tanya kabar dan kegiatan, aku menanyakan teman-teman SD yang tinggal di dusun itu

"Eh Ning, gimana kabar Miswanti, Sriyati, Wali, Muti? tinggal dimana sekarang?"

"Sudah pada punya anak semua, tinggal di dusun ini juga.. "

"bentar aku panggilkan mereka, dekat kok mas rumahnya" kata si Suami

"Iya, bagus deh, kataku, wuah, nih sudah pada pindah rumah, meski satu dusun"

Bener juga, gak sampai sepuluh menit, mereka sudah ngumpul, wajah mereka nampak ceria, tentu saja obrolan makin ramai.

"Mas wiwid, kapan mantenan?" pertanyaan yang paling bikin ribet

"ha? kapan2 deh.."

"pasti ceweknya orang kota" ledek mereka

"kulitnya putih"

"nggak bisa bahasa Jawa"

"Nggak bisa jalan di pematang Sawah"

"dan nggak tahu bedanya sapi sama kebo"

"halagk.. yang bener aku belum laku" sanggahku

"masak sih, Mas?"

"Ops bentar, kenapa kalian manggil aku Mas, bukankah aku yang paling muda?"

"karena Mas sekarang sudah jadi Piyayi"

"satu-asatunya diantara kita, se-SD, se-angkatan, yang kuliah"

"makanya, kalau belum laku tuh bohong, paling belum mau.."

"sebagai satu-satunya yang kuliah, selama ini sudah menjadi kebanggan bagi kami"

"iya meski kemudian kami malu untuk menyapa duluan, ketemu piyayi"

"iya, setidaknya kami bangga, bisa pamer kalau mas wiwid yang pyayi tu teman kita satu kelas waktu SD"


kata-kata itu itu membuatku terpana, hanya bisa senyum-senyum saja, mereka memborbadir tentang Piyayi, Mas, kebanggaan dll, sampai kemudian HPku berdering, tetanggaku sudah selesai kondangannya. Aku pun berpamitan

"Senang ketemu lagi dengan kaliyan setelah bertahun-tahun tidak ketemu, kalau mo perlu biar tidak putus pertemanan kita, atau kalau lagi ke Jogja, hubungi aku, nih nomernya "kataku sambil memberikan kartu nama

Aku pun berlalu.. " eh mas, ada tulisan email maksudnya apa?" teriak salah satu

sambil menoleh, aku berhenti sejenak, "wuah.. panjang ceritanya, yang penting alamat rumah dan nomor theleponya saja"

seminggu setelah pertemuan itu, Aku termenung sendiri, sambil melihat foto2 pertemuan itu, yang sudah Aku cetak. Kata-kata tentang sebutan "mas", piyayi, kuliah, kebanggaan yang mereka sematkan ke Aku, membuat aku tidak nyaman. Juga tentang email, yang pasti mereka tidak tahu itu apa. Ingatanku juga kembali ke masa kecil, ketika kami berseragam lusuh merah putih, tanpa sepatu (hanya bersepatu kalau hari Senin), berebut buku karena keterbatasan jumlah buku, halaman sekolah yang kalu nggak berdebu di musim kemarau, ya becek di musim hujan, hingga kelas digabung dengan kelas diatasnya atau dibawahnya kalau hujan, karena genting beberapa ruang kelas bocor.

Besuk pagi, Adikku akan mampir ke tempatku sebentar dalam perjalanan pulang dari Malang ke desaku. Kebetulan, aku tulis surat untuk teman2ku saja, yang aku titipkan lewat Adikku besuk.

Buat Ning Dkk

Semoga kebaikan selalu ada pada kalian, suami/istri dan anak kalian semua..

ini foto2 sewaktu kita berkumpul, semoga bisa menjadi kenangan tersendiri.
O,iya, harap kalian mengerti, kalau aku menyesal lanjut sekolah dan kuliah, jika itu membuat Aku menjadi lebih bagi kalian, menjadi Piyayi bagi kalian, menjadi "mas" bagi kalian, aku tetap Wiwid, teman SD. Bagaimanapun juga, dimana saja, adalah nyata, kaliyan teman SDku, gak ada yang berubah. Aku tetap bangga berteman dengan kalian, dengan kondisi apapun.

wiwid











4 komentar:

Echi mengatakan...

aku kok jadi sentrap-sentrup bacanya Mbah T_T

Echi mengatakan...

aku jadi sentrap-sentrup bacanya Mbah T_T

Anonim mengatakan...

entah mengapa membaca artikel reuni ini membuat leherku sakit... seperti saat hendak menangis...

naning caem mengatakan...

apik.... sederhana dan menyentuh....