Kamis, 20 November 2008

Kunthing dan Laskar pelangi



Buku fenomenal. Buku Laskar pelangi karya Andrea Hirata itu telah menuai banyak pujian. Ada banyak nilai yang bisa dipelajari disana. Tentang persahabatan, ironis kehidupan, cita-cita, dedikasi guru yang luar biasa, mimpi dan terutama adalah optimisme bagaimana mewujudkan mimpi. Atas dasar begitu banyak inspirasi yang aku dapatkan dari buku itu, maka aku pun berniat berbagi, terutama kepada teman-temanku yang ada di kampung. Salah satunya kepada Kunthing, teman SD. Nama asli sebenarnya Riyanto, bagus juga, tapi karena kurus dan kucel maka dipanggil kunthing, (sebutan orang Jawa untuk sesuatu yang tumbuhnya tidak maksimal). Sore ini aku datang ke rumahnya

“Gimana Thing, pendapatmu, bagus bukan?”

“O iya cukup bagus buat orang sepertimu, aku baca dua tiga kali masih bingung” jawabnya

“Setidaknya kau terinspirasi pastinya..”

Dia tertawa bentar, terus nyeruput kopi yang di buat istrinya. “Buku itu telah membuat kamu sombong, secara tdak langsung kamu mau bilang bahwa kamu sudah berkelas dengan membaca buku yang bahasanya bukan untuk orang seperti aku, hanya untuk orang-orang yang merasa dirinya hebat semata-mata kuliah” lanjutnya

“Ah, itu bagus, aku hanya mau berbagi kepada teman lama”

“Gini lho wid, kamu mbok ya nyadar, temanmu ini hanya lulusan SD, buku itu bukan untuk kami-kami, mungkin kamu akan membaca dan merasa senang karena kamu tahu apa yang dia omongkan.”

“Emang kamu nggak ngreti?”

“Ya bagaimana mungkin, alam akal sehatmu saja mesthinya kamu ingat, ketika para laskar pelangi sudah membicarakan lagu2 bethoven, aku sampai sekarang gak pernah tahu lagu apaan itu, apakah lebih baik dari didi kempot atau kalah heboh, Ketika lascar pelangi berbicara postulat Einstein, aku gak ngreti apa memang ada teori kayak gitu, aku hanya inget dulu kita di SD belajar angin laut, angin gunung, gerhana matahari, dan it –itu juga yang keluar di Ebtanas. Ketika buku itu bicara perumpamaan laksana menara kembar, aku hanya tahu gunung kembar”

Menghela napas sebentar kemudian dia melnajutkan lagi “Ketika mereka bermain tabla hingga 30 tabla, juga ada latihan band, kita tahu jaman kita yang sudah tahun 90an saja hanya bisa membayangkan alat-alat musik itu.. sekolah miskin tapi punya alat musik sebanyak itu, maaf Wid buku itu Cuma jadi tertawaan buat orang kayak aku yang benar2 miski”

Aku terhenyak, sungguh tak pernah terpikirkan sebelumnya hal itu muncul dari otak Kunthing, dari dulu Kunthing memang anak yang pragmatis. Sebenarnya aku berbagi buku itu agar ada semangat meraih lebih buat dia, namun justru aku yang diceramahi.

“Mungkin mereka beruntung Ting, punya guru yang berdedikasi” lanjutku

“Iyah kamu benar Wid, nasib kita lebih tragis, punya empat guru untuk satu SD untuk ratusan siswa, dan dari empat guru hanya satu yang lulusan SPG, sekolah pendidikan guru, tiga lainnya adalah Guru benteng Pancasila, kalau mereka berkualitas, tak mungkin kamu mogok sekolah dulu.”

Hehhe, kunthing benar, laskar pelangi sangat beruntung punya guru yang berdedikasi, kami dulu punya empat guru, 3 diantaranya adalah guru benteng pancasila, guru yang hanya bermodalkan “setia pada Pancasila” demi kepentingan politik orde baru, padahal guru-guru ada yang bahkan Sekolah Rakyat saja tidak lulus.

Saking parahnya kami dulu mogok sekolah, gara-gara seorang guru mengoreksi hasil ujian Catur Wulan dengan ngawur, jawabannya hampir nggak ada yang benar, sementara kami tahu persis kalau guru itu ngawur karena semua materi ada di buku pelajaran..

“Bukan hanya guru Wid, nasib mereka juga lebih baik, diantara mereka ada yang kuliah bahkan sampai di luar negeri, sementara kita yang sekolah di atas tahun 90an disini, hanya bisa melihat dengan kagum para mahasiswa yang KKN di desa kita, desa kita baru melahirkan sarjana tahun 2005. Diantara mereka ada yang jadi ketua DPRD, diantara kita nggak ada satu pun yang sekedar jadi ketua RT, diantara mereka ada yang jadi tokoh seni budaya, kita hanya punya teman yang ahli kuda lumping dengan nasib yang terus menerus nungging tidak jelas”

“Betul Thing, mereka jauh lebih beruntung daripada kita.”

“Hidup itu relaistis Wid, jangan kira orang sperti aku tidak punya keinginan lebih, tapi kami realistis, daripada mimpi terus menerus, lebih baik kita bangun tidur dan menjalani hidup. Kita semua mungkin gagal meraih pendidikan yang cukup, tapi kita bisa hidup, bisa bekerja, punya tenaga, tangan dan kaki yang bisa kita pake untuk jadi buruh, dan itu yang aku lakukan, aku dibutuhkan untuk mengerjakan sesuatu yang lain”

“Seperti Lintang di laskar pelangi?” tanyaku

“Betul, nyatanya kita hidup bersama ratusan Lintang disini, kalau tidak dibilang semuanya. Hidup harus realistis. Menjalani apa yang kemudian harus dijalani, atau mengejar mimpi dan mengorbankan kewajiban kita kepada keluarga, mencari nafkah, membantu menafkahi keluarga, kita ada bersama ratusan Lintang, di desa kita ini juga”

“Iya thing, ada ratusan Lintang disini” sedikit bergumam aku menatapdia

“Dengar-dengar filmnya ditonton presiden dan menteri-mentrinya, juga menjadi perhatian banyak orang di kota-kota, semoga mereka semua tidak hanya mendapat mimpi dari laskar pelangi, tapi menjadi lebih realistis bahwa ada jutaan Lintang yang harus ditolong, mereka tidak hanya bisa bersimpati dan terinspirasi, tapi juga segera berbuat yang nyata, mereka tidak hanya bermimpi bahwa Lintang seharusnya tidak demikian, tapi mereka bisa berbuat untuk menolong Lintang-Lintang lainnya, tahun depan anakku masuk sekolah, tentunya aku berharap dia bisa lebih berpendidikan dari bapaknya, itu hanya bisa terjadi kalau ada kebijakan yang nyata, bukan mimpi.. Aku berharap mereka yang mengagumi tidak hanya berhenti mengagumi, tapi berbuat nyata.”

Aku terhanyak, “kamu punya mimpi juga kan Thing?” batinku. Hidup ini relaistis, kamu benar Thing, pesimis dan optimis hanyalah bunga-bunga perasaan, bukan sesuatu yang nyata, yang senyatanya adalah hidup itu relaistis.

“Kamu sendiri selama ini ngapain, Wid? Teman SD kita sudah punya anak, kamu cari istri saja gak bisa, inget umur, gak usah banyak bermimpi” Tanya Kunthing sambil tertawa

Kopi terakhir yang aku sruput terasa makin pahit, jangan-jangan aku belum sadar juga, masih tertidur dan banyak bermimpi. Obrolan sore itu aku belajar banyak tentang realistis terhadap mimpi-mimpi kita.. Didepan teman SDku, seorang buruh tani, aku merasa pemimpi kelas kakap.

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Wah, dapet ide darimana mas wid bisa nulis seperti ini. Bagus bangeeet.. Tapi aku jadi mikir. Supaya realistis, apa sekarang mas wid mau cari istri? Kira-kira sudah ada calon belum. Siapa?

triwied mengatakan...

waduh, kayakna harus realistis cari istri, dengan standar yang realistis juga..

malah jadi bingung.. wkkkkk

Heste mengatakan...

Ehem... tulisan yang bagus... dan aku merasa jadi ikutan seorang pemimpi. tapi bukankah kita bisa hidup karena berawal dari mimpi juga, benar gak tho?

triwied mengatakan...

mbak heste...

pemimpi akan selalu hidup dalam mimpi, jangan kelamaan mimpi, segeralah bekerja mewujudkan mimpi dan menerima realitas usaha kita..

*sok bijak mode on, hehehe