Kamis, 11 September 2008

Menjadi Realistis

Obrolan chating malam ini dengan seorang teman menyinggung masalah dia yang selalu merasa pesimis terhadap banyak hal yang dihadapi. Obrolan ini mengingatkan aku tentang cerita botol minyak. Mungkin beberapa dari anda sudah membacanya.

Seorang anak diminta tolong sama ibunya untuk membelikan minyak. Maka pergilah anak itu dengan membawa sebuah botol. Dengan botol itulah si anak membawa minyaknya. Dalam perjalanan pulang, anak tersebut terjatuh, dan tumpahlah sebagian minyaknya. Sekitar setengah dari minyak yang dia beli tumpah...

Ada tiga kemungkinan yang terjadi sebagai kelanjutan cerita diatas. kemungkinan pertama, si anak akan pulang sambil terus menyesali, bahkan menangisi minyaknya yang hilang. Dia mengadu kepada Ibunya bahwa Dia sudah kehilngan setengah minyak yang dia beli, dengan penuh penyesalan. Pada kasus ini anak tersebut adalah anak yang Pesimis.

Kasus yang kedua, si anak akan pulang tetap dengan tenang dan tegap. tak ada wajah menyesal. Segalanya seperti beres, dan dengan tegas dia akan melaporkan : "Ibu, tadi di jalan Aku jatuh, tapi Aku tetap mampu menyelamatkan setengah minyak yang aku beli!!" Pada kasus ini, kita bertemu dengan anak yang Optimis.

Kasus yang ketiga, si anak tetap tenang dan pulang. wajahnya juga seimbang, tidak senang, sedih juga tidak. ketika bertemu dengen ibunya, dia akan melapor : "Ibu, tapi aku jatuh, harus Aku akui Aku kehilangan setengah minyak yang Aku beli, tapi masih juga ada setengah yang dapat dimanfaatkan." Pada kasus ini, kita bertemu dengan anak yang Realistis

Dalam banyak kasus, kadang kita menjadi orang yang pesimis dengan terus2 menerus menyesali yang hilang, dan lupa dengan peluang2 yang ada. Kadang kita juga menjadi orang yang Optimis, dengan terus menerus berbicara peluang-peluang, sehingga jika kadang menjadi lupa terhadap kemungkinan buruk yang ada. tetapi ada yang lebih bagus dalam kita bersikap terhadap apapun yang terjadi, yaitu kita menjadi realistis, tidak lupa dengan kendala2nya, tidak lupa juga dengan peluang2nya. Tidak lupa dengan keburukannya, namun tetap bersikap maju untuk melakukan hal-hal yang baik.

Kira-kira Realistis nggak ya postingan ini?

Tidak ada komentar: